Insights dari Juicebox Connect Series: V1.0 | Mining & Energy Sector Focus, Jakarta, Agustus 2025
Pada Selasa, 5 Agustus 2025, para pemimpin sektor tambang dan energi Indonesia berkumpul di The Summit Club, World Trade Centre Jakarta, dalam acara perdana Juicebox Connect Series: V1.0. Tema besar acara ini adalah “Defining Your Position in Indonesia’s Energy Future”, membahas posisi Indonesia dalam transisi energi global dan peran penting strategi brand dalam mewujudkannya.
Acara sarapan pagi ini menghadirkan CEO, CFO, strategist, hingga pemimpin keberlanjutan. Diskusi utama berfokus pada bagaimana perusahaan swasta bisa mengambil peran lebih besar di tengah kebijakan yang masih berjalan lambat.
Diselenggarakan oleh Juicebox bersama tamu khusus dari HSBC, sesi ini menggali tantangan, trade-off, serta peluang komersial dari transisi energi, dan mengapa brand kini menjadi faktor penting untuk menarik investasi, membangun pengaruh, serta menjaga kredibilitas jangka panjang.
Perubahan yang Tak Terelakkan: Konteks Global
Tom West, Director Juicebox Indonesia, membuka sesi dengan menekankan bahwa aturan main global sedang berubah:
75% sovereign wealth funds kini menyaring investasi berdasarkan risiko iklim.
Dana pensiun Eropa senilai €4 triliun wajib memasukkan faktor ESG.
EU taxonomy mengatur €1 triliun aliran modal setiap tahun untuk menentukan apa yang dianggap “berkelanjutan”.
Bagi perusahaan Indonesia, ini adalah tantangan sekaligus peluang. Pemerintah melalui OJK juga sudah mewajibkan laporan keberlanjutan, dengan 88% perusahaan tercatat patuh.
Artinya, integrasi ESG bukan lagi pilihan, tapi keharusan. Konsekuensinya nyata: bank internasional menarik diri dari pendanaan batu bara, perusahaan asuransi menolak proyek dengan emisi tinggi, dan dana pembangunan hanya mengalir ke proyek yang sesuai standar ESG global.
West menegaskan, “Perusahaan dengan tambang terbaik dan neraca keuangan kuat tetap akan kesulitan kalau tidak bisa menjelaskan bagaimana bisnis mereka relevan dengan narasi transisi energi global.”
Realita di Indonesia
Indonesia punya ambisi besar, namun masih banyak hambatan: pendanaan terbatas, ketergantungan teknologi asing, aturan yang kompleks, hingga kesenjangan antara wacana dan implementasi. Joel Pember, Brand & Growth Director Juicebox, menekankan:
“Pertanyaannya bukan apakah Indonesia akan bertransisi. Pertanyaannya adalah siapa yang akan mendefinisikan bentuk transisi itu, dan siapa yang siap memimpinnya.”
Belajar dari Australia Barat
Dengan pengalaman panjang di sektor tambang dan energi Australia Barat, disebut sebagai “silicon valley of mining”, Juicebox menunjukkan bahwa inovasi saja tidak cukup. Brand adalah jembatan antara kapabilitas teknologi dan kepercayaan sosial.
Tanpa brand yang kuat, inovasi bisa gagal mendapat dukungan publik maupun investor.
Brand sebagai Aset Strategis: 3 Studi Kasus
Fortescue:
Bertransformasi dari raksasa bijih besi menjadi pionir energi hijau dengan Fortescue Future Industries. Kampanye globalnya membuktikan bahwa brand bisa mengubah persepsi dan membuka pintu ke panggung dunia.Develop:
Develop dibangun oleh Bill Beament dengan fokus pada manusia, bukan hanya proyek. Brand ini dirancang untuk menarik talenta STEM muda, sekaligus membangun identitas berbeda dari perusahaan tambang tradisional.Jindalee Lithium:
Mengendalikan deposit lithium terbesar di AS. Dengan narasi “The Responsible Revolution”, Jindalee memposisikan diri sejak awal sebagai mitra strategis pemerintah, investor ESG, dan komunitas.
Ketiga contoh ini menunjukkan:
Ketika brand diperlakukan sebagai infrastruktur strategis, bukan sekadar logo atau identitas, ia bisa:
Membuka akses modal
Menarik talenta
Membangun kepercayaan
Memberi fokus jangka panjang
4 Pelajaran Penting
Kejelasan Niat: Brand terkuat tidak menunggu izin.
Kekuatan Narasi: Konsistensi penting untuk modal, komunitas, dan talenta.
Desain Sistem: Setiap touchpoint membentuk persepsi.
Pengalaman Digital: Nilai brand terlihat nyata melalui ekosistem online.
Pertanyaan reflektif bagi peserta:
Apa jadinya jika brand Anda lebih dulu memimpin, bukan sekadar mengikuti kebijakan?
Apakah brand Anda cukup menarik untuk mempertahankan talenta terbaik?
Apakah cerita ESG Anda jelas, strategis, dan bukan sekadar formalitas?
Brand bukan sekadar alat komunikasi, tapi aset strategis yang dapat menentukan siapa yang akan memimpin masa depan energi Indonesia. Peluang besar ada di depan: bukan hanya untuk ikut dalam transisi, tapi untuk memimpinnya.