Notes from ADGI Brand x Type, Bandung Edition

Letters Speak Before Words Do

Merdy Agustianto
Merdy Agustianto Creative Director
Jun 26, 2026 4 menit waktu baca
Credits: ADGI Bandung, Merdy Agustianto

Wawasan kunci

  • "Before we read the words, we read the typeface." Every letterform carries cultural weight and meaning that lands in milliseconds, long before the message itself is read

  • A custom typeface is no longer a privilege reserved for large or long-established companies. It comes down to how seriously a brand wants to speak. Even a young brand can invest in its own letterform infrastructure from day one

  • The decision to invest in a custom typeface is driven more by the complexity and scale of a brand's touchpoints than by its age or size, and it has to be matched with the patience to wait for it

Awal Juni 2026 saya menghadiri acara Brand x Type Bandung Edition, acara yang diinisiasi ADGI (Asosiasi Desainer Grafis Indonesia) bersama program studi DKV ITB di Bandung. Ada pameran karya typeface dari berbagai pembuat huruf, lokal dan global, plus sesi seminar dari beberapa praktisi dan akademisi tipografi.

Salah satu pembicara di seminar itu, Gumpita Rahayu, menyampaikan "Before we read the words, we read the typeface", sebelum kita membaca kata, kita membaca bentuknya dulu. Setiap lekuk huruf membawa kesan budaya dan makna yang sampai ke kita dalam hitungan milidetik, jauh sebelum otak kita sempat memproses apa yang sebenarnya tertulis.

Kesan yang terbentuk dalam milidetik itu, sebelum kita sadar sedang membaca, sebenarnya adalah recognition itu sendiri. Dalam konteks brand, hal ini menunjukan bahwa typeface sama pentingnya dengan elemen identitas visual lainnya seperti logo, warna, supergraphic, yang beda hanya skala kemunculannya. Logo muncul di titik tertentu, kemasan, papan nama, header aplikasi. Tapi sebagian besar touchpoint brand, aplikasi, media sosial, materi internal, notifikasi push, yang sebenarnya tampil bukan logo, tapi huruf. Kalau huruf itu font generik yang sama dengan ribuan brand lain, karakter brand yang sudah dibangun lewat logo dan sistem visualnya berisiko bocor justru di titik yang paling sering dilihat orang, yaitu di tulisan sehari-hari.

Kapan Brand Perlu Mulai Memikirkan Ini

Pertanyaannya: kapan waktu yang tepat untuk sebuah brand mulai investasi di huruf sendiri. Pada pameran Brand x Type, ada BCA Sans, Kahf Sans, Plus Jakarta Sans, dan typeface untuk brand-brand lainnya, dipajang berdampingan, masing-masing menjawab pertanyaan itu dari arah berbeda.

Yang paling menarik perhatian saya, Kahf, brand skin and body care untuk pria yang usianya belum lama, tapi sudah punya custom typeface sendiri sejak fase awal. Bandingkan dengan Bank BCA, institusi yang sudah puluhan tahun berdiri, dan baru invest di BCA Sans saat fase digital transformation mereka. Dua keputusan yang lahir dari konteks jauh berbeda, tapi sampai ke kesimpulan yang sama, custom typeface bukan hadiah untuk brand yang sudah besar, ini infrastruktur yang dibutuhkan begitu brand mulai serius soal konsistensi.

Juni 2026, KFC baru meluncurkan custom typeface mereka sendiri lewat rebrand, satu keluarga huruf bernama Kentucky Fried Serif dan Sans, dibangun dari DNA lettermark mereka. Brand yang sudah berdiri puluhan tahun, beroperasi di hampir seluruh dunia, dan baru di titik ini memutuskan berinvestasi penuh di sistem hurufnya sendiri.

Tiga brand, tiga lini waktu yang berbeda, tapi sampai ke kesimpulan yang sama, custom typeface bukan hadiah untuk brand yang sudah besar, ini infrastruktur yang dibutuhkan begitu brand mulai serius soal konsistensi. Tidak ada yang "terlalu dini" atau "terlalu terlambat," yang ada hanya kesiapan brand menjawab sinyal yang sebenarnya sudah ada di depan mata.

Soal Kepemilikan dan Investasi Dibayar di Depan

Satu lapisan yang sering tidak masuk hitungan, kepemilikan intelektual. Typeface komersial pada dasarnya hanya lisensi pakai. Beda medium pemakaian, beda juga lisensinya.Selain itu, brand tidak benar-benar memiliki bentuk hurufnya, dan typeface yang sama bisa dipakai brand lain, termasuk kompetitor langsung, selama mereka beli lisensinya juga.

Custom typeface mengubah itu. Karena dikembangkan khusus untuk satu brand, kepemilikannya penuh ada di tangan brand tersebut, tidak ada risiko bentuk huruf yang sama tiba-tiba muncul di brand lain, dan tidak ada ketergantungan ke lisensi pihak ketiga yang bisa berubah aturan atau biayanya di masa depan.

Tapi kepemilikan penuh itu datang dengan harga yang harus dibayar di depan, dan ini bukan investasi kecil. Mengembangkan custom typeface adalah investasi awal yang besar, prosesnya bisa berbulan-bulan sampai bertahun-tahun, melibatkan desainer huruf yang merancang dan menguji setiap karakter sebelum sistemnya siap dipakai. Pertanyaan yang lebih tepat soal ini bukan "apakah kita mampu," tapi "apakah brand kita sudah di titik di mana ketidakkonsistenan, dan risiko kehilangan daya pembeda, yang mulai jadi biaya yang lebih besar daripada investasinya."

Kahf menjawab pertanyaan itu lebih awal dari yang diduga orang. BCA menjawabnya di titik transformasi besar. KFC menjawabnya setelah puluhan tahun, lewat rebrand global. Tiga jawaban berbeda, dari tiga titik perjalanan yang jauh berbeda, tapi lahir dari kesadaran yang sama, bahwa sebelum audiens membaca apa yang brand katakan, mereka sudah membaca bagaimana brand itu terlihat.

Merdy Agustianto
Written By Merdy Agustianto Creative Director
Juicebox Intelligence